Selasa, 11 Desember 2018 | 03:12 WIB
Kenang 40 Hari Mendiang Peter Kasenda
Sejarawan Peter Kasenda Bisa Berdamai dengan Masa Lalu
Sabtu, 20 Oktober 2018 | 13:12 WIB
Peter Kasenda - [ist]

Skalanews - Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono menyebutkan, keunggulan sejarawan Peter Kasenda adalah orang yang bisa berdamai dengan masa lalu.

"Karena beliau mengungkapkan sejarah memang harus diungkap tetapi tidak harus dengan dendam," ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi dan doa bersama dengan tema "Mengenang 40 Hari Wafatnya Sejarawan Bung Peter Kasenda" di Kantor DPP PA GMNI, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/10) malam.

Karena prinsip itulah, lanjut Hariyono petinggi komunitas Bambu itu menjadi penulis sejarah yang produktif.

"Karena sebagai seorang Marhaen beliau tahu betul Bung Karno itu suka membaca dan menulis. Tetapi sekarang ini kelompok Marhaen lebih suka berbincang berjam-jam, inilah yang menjadi kritik beliau kepada kita," jelasnya.

Sementara itu, Sejarawan JJ Rizal sekaligus teman dekat Peter Kasenda mengungkapkan, salah satu kekurangan Peter adalah tidak bisa menulis pendek.

"Peter ini kalo menulis pasti panjang puluhan lembar," tuturnya.

Rizal pun mengakui pernah punya pengalaman pribadi akan hal tersebut. "Pernah Peter diminta untuk menuliskan resensi tentang autobiografi seorang tokoh komunis yang akan dimuat di Kompas," ungkapnya.

Karena akan dimuat dalam harian cetak tentunya memiliki batas materi. "Tetapi Peter malah menulis resensi tiga puluh halaman, saya pun diteleponnya untuk diminta begadang merangkum tulisannya menjadi dua halaman," jelasnya yang disambut gelak tawa oleh hadirin.

Peter sendiri meninggal dunia pada 10 September 2018, alumni jurusan Sejarah pada Fakuktas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini sejak masih mahasiswa sudah rajin menulis, baik itu berupa artikel maupun buku.

Kiprah prestisius yang pernah ia lakoni adalah mengorganisasi penulisan buku The Non Aligned Movement Towards Next Millenium Volume II dan Volume III (1995).

Dikerjakan dengan melibatkan lebih dari 50 penulis dan penerjemah selama 10 bulan.

Buku yang biaya produksinya miliaran rupiah ini diluncurkan di Balai Sidang Senayan pada 16 Desember 1995. Kemudian diberikan kepada kepala pemerintahan 112 Negara Nonblok di Kartagena, Kolombia.

Cukup banyak tulisannya yang mengangkat topik seputar perjalanan hidup Sukarno, seperti Bung Karno dalam Pergulatan Pemikiran (1991), Soekarno, Sejarah, dan Nasionalisme (2003) Bung Karno tentang Marhaen dan Proletar (1999), Soekarno, Nasionalisme, dan Globalisasi (2002), dan Bung Karno: Panglima Revolusi (2013).

Fokusnya dalam meneliti Nasionalisme dan Sukarno membuat dirinya sering diundang sebagai narasumber di banyak lembaga, termasuk media nasional. (Bisma Rizal/bus)


  
  
KOMENTAR:
Nama
Email
Komentar