Selasa, 23 Oktober 2018 | 23:04 WIB
Waspada, Serangan Siber Berbasis AI akan Terjadi 2018
Sabtu, 10 Februari 2018 | 08:16 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Peneliti keamanan di Avast, perusahaan produk keamanan digital, memperkirakan akan ada kejahatan siber baru.

Siaran pers Avast menyebutkan, serangan siber itu mungkin lewat program artificial intelligence (AI).

Serangan lainnya yang akan meningkat adalah ransomeware, serangan terhadap perangkat Internet of Things (IoT), malware cryptomining dan serangan terhadap layanan yang dibangun dengan Blockchain.

Laporan yang disusun Avast, Threat Prediction Report for 2018, mengindikasikan potensi serangan rantai pasokan tingkat tinggi akan muncul, dan peningkatan serangan dari fileless malware, pelanggaran data dan serangan pada perangkat mobile, misalnya trojan perbankan.

"Semakin bertambahnya kerangka pembelajaran mesin yang open source, ditambah dengan penurunan harga perangkat keras yang signifikan, penjahat siber kian memiliki peluang untuk menggunakan kerangka pembelajaran mesin untuk menyusup melewati algoritme pembelajaran mesin yang dikembangkan perusahaan keamanan," kata Ondrej Vlcek,CTO & EVP, Avast.

"Kami memperkirakan penjahat siber akan memanfaatkan teknologi AI untuk meluncurkan serangan phising yang canggih,di samping serangan malware."

Serangan juga mengincar ponsel pintar dan perangkat IoT. Sementara itu, akan terjadi peralihan pada vektor serangan, dengan rantai pasokan menjadi target utama, dan kerentanan kunci RSA berpotensi disalahgunakan untuk mencuri data dan menyuntikkan muatan berbahaya ke dalam data yang ditandatangani.

Penjahat siber akan melancarkan lebih banyak serangan dengan ransomware, malware cryptomining dan fileless malware. Mereka juga akan menyerang layanan berbasiskan Blockchain.

Serangan malware cryptomining, pencurian uang digital dan penipuan seputar uang digital akan meningkat seiring dengan kian populernya mata uang tersebut.

Perangkat bergerak masih menarik bagi penjahat siber. Bagi perangkat mobile dan pengguna yang sering mengunduh, rooter dan aplikasi palsu menjadi ancaman terbesar pada 2017. Jumlah aplikasi palsu,  trojan perbankan dan ransomeware diperkirakan akan meningkat. (bus/antara)


  
  
KOMENTAR:
Nama
Email
Komentar