Rabu, 17 Juli 2019 | 03:50 WIB
Internasional
Pascaserangan Sejumlah Masjid, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam
Selasa, 14 Mei 2019 | 12:08 WIB
Polisi Sri Lanka perketat keamanan dengan berlakukan jam malam - [the straits time]

Skalanews - Sri Lanka memperluas cakupan jam malam pada Senin (13/5), setelah sejumlah masjid dan tempat usaha milik kaum Muslim mendapat serangan dalam kekacauan terburuk sejak peristiwa Bom Paskah oleh kelompok fanatik.

Selain itu Sri Lanka juga menutup jaringan Facebook dan WhatsApp guna menghentikan penghasutan kekerasan oleh rakyat.

Negara pulau itu meningkatkan keamanan karena kekhawatiran yang merebak bahwa kelompok minoritas Muslim di antara 22 juta penduduknya dapat menghadapi kekerasan sektarian setelah beberapa pengikut fanatiknya meledakkan diri di empat hotel dan tiga gereja, sehingga menewaskan 250 orang.

Sejumlah masjid dan tempat usaha milik orang Muslim diserang sepanjang malam di wilayah barat Kurunegala, kata Dewan Islam Sri Lanka dan warga.

Polisi menahan sekelompok pria atas serangan tersebut, namun rakyat di daerah yang mayoritas rakyatnya penganut Buddha itu, meminta pembebasan mereka, kata Juru Bicara Militer Sumith Atapattu.

"Untuk mengendalikan keadaan, jam malam oleh polisi diberlakukan pada malam hari," dia mengatakan. Kemudian pada Senin pihak berwenang memperpanjang jam malam pada sejumlah desa di Kurunegala.

Pengeboman bulan lalu, yang diakui diakui dilakukan oleh ISIS, telah mengguncang negara berpenduduk 32 juta jiwa yang 70 persennya adalah penganut Buddha Sinhasala, selebihnya adalah umat Muslim, Hindu dan Kristen.

Sejak pengeboman, kelompok Muslim mengatakan menerima puluhan pelecehan.

Pecahan kaca berserakan di Masjid Abrar di kota Kiniyama --yang mayoritas warganya adalah kaum Muslim, akibat serangan malam sebelumnya. Seluruh jendela dan pintu gedung yang berwarna merah muda terkena lemparan dan Al Quran tercecer di lantai.

Tujuh sepeda yang diparkir di halaman juga dirusak.

Seorang petugas masjid mengatakan serangan dipicu oleh beberapa orang termasuk biksu Buddha yang ingin memeriksa ke bangunan utama setelah para tentara memeriksa kolam di dekatnya.

"Ketika kaum Muslim mencoba mencegah serangan, polisi meminta kami masuk," tutur petugas.

Pihak berwenang memberlakukan larangan sementara atas jaringan media sosial Facebook dan WhatsApp setelah kejadian pertengkaran yang dipicu oleh perselisihan di facebook.

Petugas menangkap penulis unggahan di Facebook, yang disebut seorang pria berumur 38 tahun, Abdul Hameed Mohamed Hasmar, dengan unggahan komentar berbuyi "Suatu hari kamu akan menangis" yang diartikan oleh orang-orang sebagai ancaman.

"Media sosial diblok lag untuk sementara guna menjaga perdamaian di negara," kata Nakala Kaluwewa, Dirjen Kementerian Informasi kepada Reuters, Senin. (bus/ant/reuters)