Selasa, 21 Mei 2019 | 08:48 WIB
Korupsi
Setya Novanto Bantah Tak Mengakui Kesalahan dalam Proyek e-KTP
Senin, 26 Maret 2018 | 20:28 WIB
Firman Wijaya - Ist

Skalanews - Kuasa hukum Setya Novanto, Firman  Wijaya membantah, kliennya tidak mengakui kesalahannya dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP, sebagaimana tanggapan Majelis Hakim yang menangani perkara tersebut.

Firman mengatakan, pengakuan Novanto yakni soal adanya pertemuan-pertemuan dengan beberapa orang dalam kasus e-KTP, termasuk mengakui pernah menerima jam tangan merek Richard Millle dari pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"Oh (Novanto) mengaku, pertemuan-pertemuan mengaku, jam itu pun mengaku. Hanya konteks peristiwa saja yang diluruskan," kata Firman di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (26/3).

Firman pun menyebutkan, Perkara ini masih berjalan panjang.  Sebagaimana, masih ada dua tersangka lainnya seperti Irvanto Pambudi dan Made Oka Masagung serta Anang Sugiana Sugiharjo.

"Jadi kita tunggu saja, karena saya rasa ini masih rally panjanglah pemeriksaannya. Kan masih ada Pak Irvanto, dan sebagainya," ujat Firman lagi.

Kemudian soal pernyataan KPK bahwa Novanto masih setengah hati dalam mengakui perbuatannya, Firman menyebutkan, apa yang sudah dilakukan kliennya sampai mengajukan justice collaborator sepatutnya dihargai.

"Pilihan menjadi justice collaborator bukan pilihan yang mudah dan berisiko. Jadi, apresiasi seorang Pak Setnov tetap perlu dihargai. Saya rasa itu," ujar Firman.

Selain itu, permohonan maaf yang disampaikan Novanto, menurut dia, juga bentuk pengakuan. Kliennya juga pernah mengembalikan uang Rp5 miliar ke KPK.

Uang itu pernah digunakan keponakan Novanto, Irvanto Hendra Pambudi, untuk membiayai Rapimnas Partai Golkar. Novanto menduga uang itu berasal dari proyek pengadaan e-KTP.

Sikap kliennya disebut sudah memenuhi Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang perlakuan terhadap pelapor tindak pidana (whistle blower) dan saksi pelaku yang bekerjasama (justice collaborator) di dalam perkara tindak pidana tertentu. Meski begitu, pihaknya menyerahkan soal JC ini kepada proses hukum ke depannya.

"Seperti apa potret JC yang akan diterapkan dalam role model kasus Pak Setya Novanto, kita tunggu saja. Yang penting pengungkapan kasus e-KTP, Pak Novanto sudah menunjukkan itikadnya ingin kooperatif dengan penegak hukum dan mendorong Pak Irvanto juga untuk mau bekerjasama dengan penegakan hukum," ujar Firman.(Bisma Rizal/dbs)