Kamis, 21 Februari 2019 | 07:01 WIB
Korupsi
Pimpinan KPK Dituntut Usut Dugaan Aliran Uang ke Pejabat Polri
Selasa, 9 Oktober 2018 | 04:21 WIB
Basuki Hariman -

Skalanews - Mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menuntut pimpinan KPK sekarang untuk menindaklanjuti dugaan aliran uang pengusaha ekspor-impor Basuki Hariman ke pejabat Polri.

Sebagaimana hasil investigasi kumpulan jurnalis dalam Indonesialeaks yang dirilis dari akun twitternya pada, Senin (8/10).

Bambang menyebutkan, hasil investigasi itu lebih dahsyat dari gempa dan tsunami yang terjadi di Palu-Donggala karena ada dugaan upaya para petinggi penegak hukum di republik tercinta ini kongkalingkong untuk menutupi rekam jejak kasus ini.

"Tak hanya buku bank bersampul merah atas nama Serang Noor IR yang memuat indikasi transaksi kejahatan tapi juga fakta adanya tindakan merobek 15 lembar catatan transaksi 'jadah' atas buku bank serta sapuan tip-ex di atas lembaran alat bukti kasus penyuapan atas Patrialis Akbar oleh Basuki Hariman," kata Bambang dalam pers rilis yang diterimanya, Jakarta, Senin (8/10).

Bambang pun menambahkan, memang ada hal yang melegakan dalam perkara ini yakni, kejadian tersebut diketahui penyidik KPK lainnya serta terekam dalam CCTV di ruang kolaborasi lantai 9 gedung KPK pada tanggal 7 April 2017.

"Tak pelak lagi, perobekan atas buku bank sampul merah PT Impexindo Pratama karena buku itu berisi catatan pengeluaran perusahaan pada 2015-2016 dengan jumlah Rp4,337 miliar dan US$ 206,1 ribu, salah satu motif utamanya, diduga, ditujukan untuk menggelapkan, meniadakan dan
menghapuskan nama besar petinggi penegak hukum yang mendapatkan transaksi ilegal dari perusahaan milik Basuki Hariman," tuturnya.

Hal yang paling mengerikan, kata Bambang, hacurnya wajah dewi keadilan, yakni Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat penyidik KPK, Surya Tarmiani pada 9 Maret 2017 yang memuat keterangan saksi Kumala Dewi Sumartono yang membuat rincian catatan laporan transaksi keuangan dalam kapasitasnya sebagai Bagian Keuangan CV Sumber Laut Perkasa, justru tidak ada di dalam berkas perkara.

"Yang tersebut di dalam berkas perkara justru BAP dari pelaku yang diduga menyobek 15 lembar
transaksi jadah itu," tuturnya.

Padahal BAP itu memuat keterangan adanya 68 transaksi yang tercatat dalam buku bank merah atas nama Serang Noor dan ada 19 catatan transaksi untuk individu yang terkait dengan institusi Kepolisian RI.

Bambang pun menyebutkan, yang menjadi persoalan adalah posisi hukum dan nurani keadilan dari komisioner KPK yang sekaligus Pimpinan KPK.

"Kejahatan yang paling hakiki dengan derajat luar biasa terjadi di depan mata, hidung dan telinga mereka, tapi Pimpinan KPK tinggal diam, mati akal-nurani keadilannya dan mati suri," jelasnya.

Bambang pun menegaskan, para pimpinan KPK dapat dituding telah secara sengaja menyembunyikan dan juga melakukan kejahatan yang sekaligus merusak kehormatan dan reputasi Lembaga KPK yang dibangun bertahun-tahun.

"Tidak ada pilihan lain, Pimpinan KPK harus segera bangkit, bertindak waras dan menegakkan keberaniannya, jangan lagi mau dipenjara ketakutannya sendiri untuk melawan kejahatan yang makin sempurna," katanya. (Bisma Rizal/bus)