Jumat, 23 Agustus 2019 | 09:35 WIB
Korupsi
Dalam Dakwaan, Bowo Sidik Disebut Pakai Uang Suap untuk Nyaleg
Rabu, 14 Agustus 2019 | 15:26 WIB
Barang bukti 82 kardus amplop dan 2 kontainer yang berisi uang Rp8 miliar yang disita KPK dari Bowo Sidik Pangarso - [antarafoto]

Skalanews - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dakwaannya menyebut anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar non-aktif, Bowo Sidik Pangarso menggunakan uang suap untuk nyaleg.

Uang suap Rp300 juta yang diterima Bowo Sidik dari Direktur Utama (Dirut) PT Ardila Insan Sejahtera (AIS), Lamidi Jimat digunakan untuk kepentingan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dapil Jawa Tengah (Jateng) 2.

Uang suap tersebut diterima Bowo secara bertahap. Awalnya, Bowo menerima Rp50 juta dari Lamidi Jimat karena PT Ardila Insan Sejahtera (AIS) telah mendapatkan proyek BBM untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd atas bantuan Bowo Sidik.

"Terdakwa menggunakan uang pemberian Lamidi Jimat tersebut untuk kepentingan pencalegan di dapil Jawa Tengah 2," kata JPU KPK, Kiki Ahmad Yani di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (14/8).

Bowo Sidik kemudian menerima lagi uang Rp20 juta dari Lamidi Jimat setelah PT AIS beberapa kali mendapatkan proyek penyediaan BBM untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd.

"Terdakwa menerima sejumlah uang Rp20 juta dari Lamidi Jimat dengan cara ditransfer ke rekening atas nama Rini Setyowati Abadi," papar Jaksa.

Uang Rp20 juta tersebut kemudian digunakan Bowo Sidik untuk pembuatan kaus kampanye. Selanjutnya, Lamidi Jimat kembali mentransfer uang Rp80 juta ke rekening Rini Setyowati untuk melunasi pembayaran sewa tempat untuk posko pemenangan Bowo Pangarso di Demak.

Terakhir, Bowo menerima secara langsung Rp100 juta dari Lamidi Jimat di Kompleks DPR RI.

"Saat itu, Lamidi Jimat juga menyerahkan daftar perhitungan pembayaran invoice penyediaan BBM PT AIS ke PT Djakarta Lloyd dan rincian uang yang sudah diterima terdakwa," pungkasnya. (Frida Astuti/Bus)