Senin, 23 September 2019 | 23:07 WIB
Korupsi
KPK Tetapkan Mantan Dirut Petral Tersangka Kasus Mafia Migas
Selasa, 10 September 2019 | 17:44 WIB
Laode M Syarif - [deni hardimansyah/skalanews]

Skalanews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur Utama (Dirut) Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) Bambang Irianto (BTO) sebagai tersangka praktik mafia migas.

Penyidikan kasus dugaan suap kegiatan perdagangan minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Services Pte. Ltd (PES) selaku subsidiary company PT. Pertamina (Persero) tersebut merupakan tindak lanjut amanat Presiden Joko Widodo yang telah menyatakan perang terhadap praktik Mafia Migas hingga membubarkan Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) pada bulan Mei 2015 lalu.

"Tindakan ini dilakukan karena diyakini terdapat praktik mafia migas dalam perdagangan minyak yang ditugaskan pada anak perusahaan PT. Pertamina Persero, termasuk Petral dan Pertamina Energy Service (PES)," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif saat jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Selatan (10/9).

"Secara paralel, sebagai bentuk konsern dan dukungan KPK terhadap prioritas memerangi mafia migas, maka KPK melakukan penelusuran lebih lanjut dan dalam perkara ini ditemukan bahwa kegiatan sesungguhnya dilakukan oleh PES, sedangkan Petral diposisikan sebagai semacam paper company. Sehingga, KPK fokus mengungkap penyimpangan yang terjadi di PES tersebut," sambungnya lagi.

Saat dilakukan penyidikan, ditemukan bukti adanya praktik mafia migas yakni suap dilakukan lintas negara dan menggunakan perusahaan "cangkang" di yurisdiksi asing yang masuk dalam kategori tax haven countries.

"Awalnya, dengan target menciptakan Ketahanan Nasional di bidang energi, PT Pertamina (Persero) membentuk Fungsi Integrated Supply Chain (ISC). Fungsi ini bertugas melaksanakan kegiatan perencanaan, pengadaan, tukar menukar, penjualan minyak mentah, intermedia, serta produk kilang untuk komersial dan operasional," papar Laode.

Untuk mendukung target tersebut, PT. Pertamina (Persero) lalu mendirikan beberapa perusahaan subsidiari yang dimiliki dan dikendalikan penuh, yakni Pertamina Energy Trading Limited (Petral) yang berkedudukan hukum di Hong Kong, dan Pertamina Energy Services Pte. Ltd (PES) yang berkedudukan hukum di Singapura.

"Petral tidak punya kegiatan bisnis pengadaan dan penjualan yang aktif. Sedangkan PES menjalankan kegiatan bisnis utama yaitu pengadaan dan penjualan minyak mentah dan produk kilang di Singapura untuk mendukung perusahaan induknya yang bertugas menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak secara nasional," pungkasnya. (Frida Astuti/Bus)