Minggu, 26 Januari 2020 | 21:02 WIB
Inflasi Desember 2016 di Pangkalpinang Capai 1,95 Persen
Selasa, 3 Januari 2017 | 18:47 WIB
Ilustrasi - [ist]

Skalanews - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mencatat, Kota Pangkalpinang pada Desember 2016 mengalami inflasi 1,95 persen, atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) menjadi 133,40 dari sebelumnya 130,85.

"Inflasi terjadi, karena naiknya indeks di tiga kelompok pengeluaran. Sedangkan empat kelompok lainnya mengalami penurunan," kata Kepala BPS Babel Darwis Sitorus di Pangkalpinang, Selasa (3/1).

Ia menjelaskan, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan, --yaitu bahan makanan 3,07 persen, makanan jadi minuman rokok dan tembakau 0,82 persen, serta kelompok transpor komunikasi dan jasa keuangan 7,27 persen.

Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan yaitu perumahan air listrik gas dan bahan bakar 0,20 persen, sandang 0,58 persen, kesehatan 0,45 persen, serta kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga turun sebesar 0,02 persen.

Beberapa komoditas dan jasa yang mengalami peningkatan harga, yaitu angkutan udara, ikan kerisi, dencis, ayam hidup, daging ayam ras, kangkung, sotong, cumi cumi, soto, dan gula pasir.

Sedangkan komoditas yang mengalami penuruan harga, yaitu bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, ikan selar, daging babi, asam, emas perhiasan, tempe, obat dengan resep, dan kacang panjang, serta pisang.

Kota-kota IHK di Pulau Sumatera yang berjumlah 23 kota pada Desember 2016 tercatat Lhoksumawe mengalami inflasi tertinggi, yaitu sebesar 2,25 persen dengan IHK 124,94, dan terendah di Tembilahan 0,02 persen dengan IHK 129,89.

"Kota yang mengalami deflasi hanya terjadi di Bungo dan Bukittinggi, masing-masing 0,11 persen dan 0,57 persen dengan IHK 124,35 dan 126,29," ujarnya.

Tingkat inflasi tahun kalender Desember 2016 sebesar 7,78 persen. Demikian juga dengan tingkat inflasi tahun ke tahun (Desember 2016 terhadap Desember 2015), sebesar 7,78 persen.

Sumbangan masing-masing komponen terhadap inflasi pada bulan ini adalah komponen bergejolak sebesar 0,50 persen, dan komponen inti sebesar 0,40 persen. Sementara komponen yang harganya diatur oleh pemerintah, mengalami deflasi sebesar 1,05 persen. (ant/tat)