Kamis, 21 Maret 2019 | 02:54 WIB
OJK: Aset Industri Keuangan Sulsel Rp164,4 Triliun
Rabu, 30 Januari 2019 | 00:08 WIB
-

Skalanews - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua) menyebutkan total aset industri keuangan di Sulawesi Selatan pada akhir tahun 2018 mencapai Rp164,4 triliun atau tumbuh 6,4 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kepala OJK 6 Sulampua Zulmi di Makassar, Selasa (29/1), mengatakan kinerja industri jasa keuangan di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2018 kembali mencatatkan pertumbuhan yang positif dengan tingkat risiko yang terkendali.

"Sedangkan kredit industri jasa keuangan mencapai Rp138,5 triliun, tumbuh 4,7 persen," ujarnya.

Pada kesempatan itu, OJK juga melaporkan pertumbuhan industri jasa keuangan ditopang oleh pertumbuhan sektor perbankan dengan total aset mencapai Rp145,1 trilliun, tumbuh 6,29 persen. Dana Pihak Ketiga tumbuh 6,20 persen menjadi Rp95,2 triliun, dan kredit tumbuh 4,3 persen menjadi Rp120,2 trilliun.

Kredit UMKM juga tumbuh positif 4,02 persen dengan pangsa 32,28 persen dari total kredit. Sejalan dengan itu, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun 2018 mencapai Rp6,5 triliun atau 121,9 persen dari rencana bisnis bank pada awal 2018 sebesar Rp5,4 triliun.

Kinerja penyaluran KUR di Sulawesi Selatan tersebut berada di peringkat 4 secara nasional, setelah Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Di samping itu, penyaluran KUR di Sulawesi Selatan juga mengarah ke sektor produksi yaitu pertanian, perikanan, dan industri pengolahan, dengan pangsa 52,13 persen, lebih tinggi dari pangsa nasional 46,8 perse dan melebihi target pemerintah, yaitu minimal 50 persen.

Kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan masih terjaga pada level yang tinggi dengan indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 125,12 persen, lebih tinggi dari LDR perbankan secara nasional 94,04 persen.

"Industri jasa keuangan di Sulsel pada tahun 2018 mencatat kinerja pertumbuhan yang positif dengan tingkat resiko yang terkendali," ujarnya. Adapun risiko kredit tetap terkendali dengan rasio NPL gross sebesar 3,5 perse , masih di bawah ambang batas 5 persen.

Industri pasar modal di Sulawesi Selatan juga terpantau tumbuh signifikan. Jumlah investor di Sulawesi Selatan mencapai 23.637 investor, tumbuh sangat tinggi 125,19 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp11,58 triliun.

"Dengan berbagai program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta kolaborasi yang produktif antara seluruh lembaga jasa keuangan, kami optimis sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan dapat tumbuh lebih tinggi di tahun 2019," ujarnya.

Gubernur Sulawesi Selatan HM Nurdin Abdullah (NA) mengatakan, kehadiran seluruh stakehokder untuk memberikan support dalam rangka rapat tahunan industri jasa keuangan tahun 2019 ini.

"Jujur, saya hari ini berbahagia karena kita telah menjalin koordinasi dengan baik. Sehingga apa yang kita lihat tadi adalah sinergi kita semua, Alhamdulillah. Dan hari ini hadir para pemangku kepentingan," kata Nurdin Abdullah.

NA menyampaikan hal ini dicapai karena Sulsel mampu menjaga stabilitas politik dan keamanan serta peranan kepala daerah.

"Saya telah empat bulan menjabat, tugas saya bagaimana daerah ini menjadi daerah ramah investasi," sebutnya.(ant/dbs)