Senin, 23 September 2019 | 12:09 WIB
Khofifah Wajibkan ASN Pemprov Jatim Ikut Gerakan Bayar ZIS
Selasa, 7 Mei 2019 | 02:34 WIB
-

Skalanews - Gubernur Jaw Timur Khofifah Indar Parawansa mencanangkan gerakan membayar zakat, infaq, shodaqoh (ZIS) dengan mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jatim untuk meningkatkan ZIS selama bulan suci Ramadhan.

Sebab, pada dasarnya para ASN dinilai sudah berkecukupan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup layaknya.

"Bala bencana tidak akan mendahului shodaqoh, untuk itu segeralah bershodaqoh. Tradisi berbagi, shodaqoh, mengeluarkan infaq di bulan Ramadhan lebih ditingkatkan lagi," ujar Gubernur Khofifah saat mencanangkan Gerakan Membayar ZIS melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Prov. Jawa Timur di halaman Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan No. 110 Surabaya, Senin (6/5).

Gubernur Khofifah menambahkan peningkatan ZIS diharapkan bisa menyempurnakan proses ibadah di bulan Ramadhan. Harapannya agar tarawih, dan puasa bisa berjalan baik, termasuk tadarus. "Jangan lupa mengeluarkan infaq, dan shodaqoh juga," kata orang nomor satu di Jatim ini.

Menurutnya, gerakan membayar ZIS melalui BAZNAS Provinsi Jawa Timur menjadi jalan bagi ASN Pemprov Jatim untuk semakin meningkatkan ZIS. Bisa melalui pembayaran tunai, BPD serta Bank Mandiri.

"Kalau hari ini siapapun yang mau infaq, shodaqoh, bahkan zakat juga bisa. Ada tiga opsi yang bisa dipilih dengan tim yang sudah disediakan oleh Baznas untuk mengkoordinasikan tiap-tiap OPD di pemprov," jelasnya.

Lebih lanjut disampaikannya, pada pertengahan bulan Ramadhan, ia menginginkan agar gerakan membayar ZIS di lingkungan ASN Pemprov Jatim bisa digelar kembali.

"Pada akhirnya, harapan kita keberkahan dan kemuliaan Ramadhan akan Allah turunkan ke bumi Jawa Timur, ke ASN Jawa Timur, ke seluruh masyarakat Jawa Timur, dan tentu ke seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia," harapnya.

Mengenai potensi zakat Jatim, Gubernur Khofifah menjelaskan, bahwa potensi zakat Jatim secara nasional mencapai Rp213 triliun. Sedangkan yang efektif hanya Rp6 triliun. Ini masih jauh dari potensi zakat yang bisa dimaksimalkan.

"Kita bayangkan andai zakat bisa dimaksimalkan, tidak ada lagi mushola-mushola yang tempat wudhunya kurang proper, program-program penanganan fakir miskin akan lebih efektif. Mungkin untuk guru-guru ngaji, kita bisa memberikan ruang yang lebih baik," pungkasnya. (Wahyu/bus)