Selasa, 21 Januari 2020 | 09:27 WIB
Kebakaran Lahan di Kalteng Berpotensi Sangat Sulit Dikendalikan
Selasa, 30 Juli 2019 | 10:57 WIB
Kebakaran lahan dan hutan - ilustrasi - [ist]

Skalanews - Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah sudah masuk pada zona merah potensi kebakaran lahan dengan kategori sangat sulit dikendalikan jika terjadi kebakaran hutan dan lahan, kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Haji Asan Sampit, Nur Setiawan.

"Kategori itu artinya sangat sulit dipadamkan atau dikendalikan jika terjadi kebakaran. Parameternya hasil interpolasi dari suhu, kelembaban, arah angin dan monitoring HTH (hari tanpa hujan)," kata Nur Setiawan di Sampit, Senin (29/7).

Potensi kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur (Kotim) makin meningkat. Fakta di lapangan juga membuktikan kebakaran lahan makin marak dalam sebulan terakhir.

Pantauan satelit pada Senin (29/7) pagi menunjukkan ada 14 hot spot atau titik panas terpantau di Kotawaringin Timur. Titik panas tersebut tersebar satu titik di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, lima titik di Mentaya Hilir Utara, tiga titik di Telawang, satu titik di Teluk Sampit, dua titik di Mentaya Hilir Selatan, satu titik di Seranau dan satu titik di Parenggean.

Banyaknya sebaran titik panas tersebut menggambarkan tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan di kabupaten ini. Data tersebut juga dapat menjadi acuan bagi semua pihak terkait dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan juga dipengaruhi berkurangnya intensitas hujan. Akibatnya, lahan menjadi kering dan sangat mudah terbakar.

Banyaknya sebaran gambut tebal membuat potensi kebakaran lahan cukup tinggi. Gambut yang kering sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api terus membakar ke dalam tanah meski api di permukaan tanah terlihat padam.

"Dari peta HTH di Kotawaringin Timur rata-rata tidak terjadi hujan lebih dari tujuh hari. Potensi hujan tetap ada meski intensitasnya ringan," katanya.

Nur Setiawan menambahkan, kebakaran lahan juga mulai mengganggu jarak pandang. Beberapa hari terakhir, jarak pandang cenderung sangat rendah yaitu hanya sekitar 800 meter, terutama pada pagi hari antara pukul 06.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB.

Masyarakat diimbau mencegah kebakaran lahan dan tidak membakar lahan. Saat ini potensi kebakaran lahan cukup tinggi dan dikhawatirkan sulit dikendalikan sehingga bisa memicu kabut asap parah yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat, ujarnya. (bus/ant)