Senin, 9 Desember 2019 | 19:24 WIB
Khofifah Sesalkan Aksi Penyerangan Wiranto
Jumat, 11 Oktober 2019 | 13:20 WIB
Khofifah Indar Parawansa - [ist]

Skalanews - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyesalkan kejadian penyerangan yang menimpa Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM (Menkopolhukam) Wiranto di Pandeglang, Banten.

Gubernur menilai seharusnya aksi tersebut tidak terjadi jika seluruh anak bangsa mengedepankan sikap "tabayyun" atas seluruh persoalan dan saling menghormati antara satu dan lainnya.

"Sangat disayangkan apapun alasannya aksi kekerasan seperti itu seharusnya tidak terjadi dan tidak boleh ditoleransi. Bukan karena Pak Wiranto pejabat, tapi sebagai sesama warga bangsa yang punya kedudukan yang sama di mata hukum," ujar Khofifah saat gelaran Tahlil Kubro di Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) 1 Madiun, Kamis (10/10) malam.

Menurut dia, kejadian tersebut bisa saja terulang di tempat lain, tidak hanya di Banten. Oleh karena itu, ia berharap Polri bisa mengusut tuntas dalang di balik aksi penyerangan tersebut beserta motif yang melatarbelakanginya.

Khofifah sendiri berencana menjenguk Menkopolhukam Wiranto di Jakarta apabila kondisinya telah memungkinkan.

"InsyaAllah jika kondisi Pak Wiranto sudah makin membaik dan memungkinkan untuk dijenguk kami ingin sowan," imbuhnya.

Dalam kegiatan tahlil tersebut Gubernur Khofifah juga mengajak masyarakat untuk selalu berpedoman kepada negara, Pancasila, dan agama. Kehidupan, kata dia, harus berbangsa, berpancasila, dan beragama.

Ia meminta ketiganya tidak dihadap-hadapkan, sebaliknya, harus saling beriringan. Hal itu dirasa penting. Sebab, lanjut dia, banyak yang membenturkan ketiganya belakangan ini. Kehidupan berbangsa dibenturkan dengan agama atau sebaliknya. Hal itu dapat mengancam persatuan dan kesatuan.

"Antara ketiganya (berbangsa, berpancasila, dan beragama) kalau terjadi salah paham bisa terjadi seperti kejadian di Banten yang menimpa Menkopolhukam. Ini tidak benar," kata gubernur.

Khofifah juga berpesan agar masyarakat tidak mudah menyebarluaskan informasi yang diterima. Paling tidak dibaca terlebih dahulu. Pesan ia minta cukup berhenti pada masing-masing yang membaca jika dirasa tak memberikan manfaat atau dirasa diragukan kebenarannya.

Hal itu penting karena diduga banyak pesan tak benar atau berita bohong yang sengaja disebarkan. Ia meminta masyarakat harus waspada.

"Pemimpin juga harus mengingatkan masyarakatnya. Paling tidak masyarakat memahami apa yang boleh dan tidak dilakukan," katanya.(ant/dbs)