Rabu, 11 Desember 2019 | 17:58 WIB
Jatim Siapkan Penangkaran Burung Cendrawasih dan Kakatua
Senin, 18 November 2019 | 06:14 WIB
Khofifah Indar Parawansa - [ist]

Skalanews - Pemprov Jatim akan membuat penangkaran burung Cendrawasih dan burung kakatua dengan memanfaatkan kawasan ekonomi khusus (KEK) Singhasari. Penangkaran ini nantinya sebagai pengembangan sektor pariwisata puspa dan satwa serta agropolitan.

Gagasan tersebut disampaikan oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat hadir dalam peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) tahun 2019 yang diselenggarakan di universitas Brawijaya (UB) Forest di Dusun Sumbersari, Desa Tawang Argo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Minggu (17/11/2019).

Dalam kesempatan itu Khofifah juga melepasliarkan sebanyak 7 ekor rusa dan 5 ekor kijang di lingkungan penangkaran UB Forest.

"UB Forest ini luasnya lebih dari 500 hektare. Sekitar tiga kilometer ada KEK Singhasari. Serta dekat juga dengan BBIB Singosari milik Kementan. Ini kita ingin jadikan titik sinergitas. Antara KEK Singhasari yang punya kluster wisata dan UB Forest yang punya pengembangan wisata hutan, dan juga BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan, red) yang punya tempat penyimpanan semen beku," ujar Khofifah.

Khofifah ingin ada penangkaran yang lebih luas. Terutama untuk satwa langka yang statusnya dilindungi, agar jumlahnya terus bertambah. Seperti burung Cendrawasih dan burung Kakatua.

Untuk itu Pemprov Jawa Timur akan koordinasi triangle, antara BBIB-UB-KEK untuk mengurus perizinan dan berbagai persyaratan ke pemerintah pusat mengingat role model seperti ini belum ditemukan di Indonesia.

Diharapkan pemerintah pusat bisa memberikan izin budidaya burung Cendrawasih dan Kakatua di Jawa Timur, selanjutnya mendapatkan izin untuk memberikan sertifikasi burung hasil budi daya tersebut secara legal dan dapat di jual sehingga secara ekonomi dapat ditingkatkan dan secara populasi juga makin bertambah.

"Secara scientific saya telah diskusi dengan rektor UB sekaligus Dekan Fakultas Peternakan UB yang telah melakukan berbagai riset tentang pengembangbiakan varian burung," ujarnya.

Lantaran sistem yang digunakan adalah dengan sistem penangkaran dan budidaya, dipastikan tidak akan mengganggu habitat hewan tersebut bahkan sebaliknya akan mengembangbiakan.

"Bahkan ini akan jadi sumber ekonomi baru. Karena jika ditangkar, dan dikembangbiakan serta disertifikasi maka secara regulasi bagi mereka yang mau memiliki hewan tersebut keabsahannya terjamin karena sah cara mendapatkannya," kata Khofifah.

Teknisnya, Khofifah menjelaskan, semen beku untuk penangkaran bisa dititipkan ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singhasari. Untuk penelitian dan pengembangan bisa dilakukan oleh para dosen dan juga pihak dari UB Forest.

Sinergi ini, dikatakan mantan Menteri Sosial RI tersebut, sangat strategis. Ia bahkan menyebutnya adalah sinergi triangle lantaran juga jarak antar lokasi tiga instansi ini tidak terpaut jauh.

"Maka kita akan godok dan siapkan tim adhoc untuk triangle ini. Sementara ini kita telah membahas dengan Rektor UB dan Direktur UB Forest, selanjutnya kita perluas dengan BBIB dsn KEK," pungkas Khofifiah. (Wahyu/bus)