Minggu, 8 Desember 2019 | 17:06 WIB
CVR Lion Air JT 610 Ditemukan, Menhub Apresiasi KNKT dan TNI AL
Senin, 14 Januari 2019 | 17:29 WIB
-

Skalanews - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengapresiasi keberhasilan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan TNI Angkatan Laut (TNI-AL) menemukan alat perekam audio atau Cockpit Voice Recorder (CVR) diduga milik pesawat Lion Air JT 610.

"Saya mengapresiasi apa yang ditemukan oleh KNKT bersama Angkatan Laut, dan ini pasti memberikan suatu makna bagi upaya kita menemukan penyebab dari kecelakaan (pesawat) itu," ujar Menhub Budi kepada wartawan di Jakarta, Senin (14/01).

Menhub juga bangga mengingat CVR yang diduga milik Lion Air JT 610 itu ditemukan oleh KRI atau kapal Angkatan Laut, mengingat sebelumnya alat tersebut sulit ditemukan kendati pemerintah telah menggunakan konsultan atau kapal dari Singapura.

"Upaya menemukan CVR memang kita lakukan all out atau habis-habisan," kata Menhub usai menghadiri Seminar dan Dialog Nasional Kesiapan Tenaga Kerja Indonesia.

Terkait jangka waktu penyelidikan data yang terdapat dalam CVR pesawat Lion Air JT 610, Menhub menjelaskan butuh waktu kira-kira satu tahun dan tergantung pada kualitas datanya.

"Tergantung dari komplikasi datanya, namun sebenarnya satu penemuan ini diberikan waktu satu tahun. Jadi nanti kita lihat bagaimana kualitas data yang ditemukan itu bisa dieksplor atau ditelusuri sebagai suatu data," tutur Menhub.

Penyelam Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Komando Armada (Koarmada) TNI Angkatan Laut menemukan  CVR diduga milik pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang Jawa Barat pada beberapa waktu lalu.

Berdasarkan informasi, pasukan khusus TNI AL itu menemukan CVR pada Senin sekitar pukul 09.10 WIB pada kedalaman laut sekitar 30 meter atau kedalaman delapan meter di bawah dasar laut.

Pesawat Lion Air JT 610 bernomor registrasi PK-LQP rute Jakarta-Pangkalpinang yang membawa total 181 penumpang dan delapan awak jatuh di perairan Karawang pada Senin (29/12).

Dari jumlah tersebut, ada 125 jenazah korban yang sudah berhasil diidentifikasi hingga Basarnas menghentikan pencarian korban pada 10 November 2018.(antara/dbs)