Minggu, 8 Desember 2019 | 18:41 WIB
Rachmawati: Revolusi Belum Selesai
Kamis, 17 Agustus 2017 | 22:11 WIB
Rachmawati Soekarnoputri - [Risman Afrianda/Skalanews]

Skalanews - Putri Presiden Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri menyatakan bahwa revolusi Kemerdekaan belumlah selesai. Sebab bangsa Indonesia masih menjadi budak di tanah airnya sendiri.

Menurut Rachma, terjadinya perang proxy telah mengakibatkan Pancasila menjadi hampa. Salah satu contoh perang proxy yang jelas adalah dirubahnya Pancasila yang merupakan Dasar Indonesia merdeka menjadi Pilar. Kemudian, diubahnya UUD 1945 yang menyerupai dengan UUDS 1950.

"(Karena itu) revolusi belum selesai, revolusi untuk kembali pada Pancasila dan UUD 1945 dengan kesungguhan hati," ujarnya dalam upacara peringatan kemerdekaan Indonesia di Universitas Bung Karno, Jakarta Pusat, Kamis (17/8).

Perang Proxy mengakibatkan Pancasila yang seharusnya menjadi Sifat Bangsa Indonesia berubah menjadi simbol belaka. Dengan begitu, menurut Rachma, terbukalah peluang oknum-oknum yang memainkan politik pemecah belah bangsa. Seperti, membenturkan agama dengan Pancasila.

"Ini yang bahaya! Agama dibenturkan dengan Pancasila," jelasnya.

Kemudian, lanjut Rachma, ada upaya membenturkan negara dengan rakyat. Pola tersebut dianggap sama dengan masa kolonialisme.

"Kita pernah merasakan. Kita disebut 'bukan Pancasila', pernah dicap intoleran, ada propaganda yang merusak kerukunan antar beragama," katanya.

Dikatakan Rachma, dalam perang proxy tidak terlihat siapa kawan dan siapa lawan. Berbeda dengan masa Presiden Soekarno, masyarakat Indonesia melawan kolonialisme Belanda secara langsung atau head to head.

"Karena pelaku proxy bisa dari state actoratau non state actor. Kita tidak tahu siapa mereka tersebut," kata Rachma.

Oleh karena itu, Rachmawati menenyerukan kepada rakyat Indonesia harus membangun benteng pertahanan lebih kuat agar tidak ada perpecahan. Salah satunya menghidupkan Sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (sishankamrata). Yakni, upaya pertahanan yang dilakukan secara gontong royong Antara TNI dengan rakyat.

"Yang bahu membahu mempertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Bentuk ketahanannya sendiri berbagai macam. Pertama, ketahanan ideologi. "Ini sangat diperlukan untuk membangun jati diri sebagai bangsa berdaulat politik," jelasnya.

Kedua, ketahanan di bidang pangan. Indonesia harus kembali pada ekonomi terpimpin bukan seperti saat ini liberal kapitalisme.

Ketiga, ketahanan di bidang kesehatan. Bangsa Indonesia harus menjadi manusia unggul jiwa dan raga. Faktor kesehatan ini harus ditingkatkan di seluruh Tanah Air.

Berikutnya, ketahanan di bidang pendidikan juga sangat penting. Bangsa Indonesia harus bisa menjadi bangsa unggul dengan ilmu pengetahuan politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

Terakhir, tambah Rachma, ketahanan kependudukan atau kewarganegaraan. "Kita sebagai bangsa Indonesia asli harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dari Sabang hingga merauke," lantang Rachma disambut tepuk tangan.

"Kita harus menguasai negara kita yang terdiri dari kepulauan yang sangat besar jumlahnya, harus dikuasai kita orang Indonesia asli," imbuh Rachma, menekankan.

Rachma kemudian mengutip ucapan Bung Karno bahwa sejarah akan membuat bangsa Indonesia belajar arif dan bijak ke depan.

"Sejarah hasil kristal keringat selama 72 tahun merdeka. Kita harus menyelesaikan cita-cita dari para founding father, revolusi kita belum selesai karena kita belum hidup dalam sinar bulan purnama yang terang benderang," ucap Rachma.(Bisma Rizal/dbs)