Selasa, 20 November 2018 | 07:00 WIB
LBH Masyarakat: Eksekusi Mati Hanya Kamuflase
Senin, 28 Agustus 2017 | 06:13 WIB
HM Prasetyo - [deni hardimansyah/skalanews]

Skalanews - Pelaksanaan eksekusi hukuman mati dianggap sebagai kamuflase untuk menutup keburukan kinerja Kejaksaan Agung.

Hal itulah yang diungkapkan oleh Direktur LBH Masyarakat Ricky Gunawan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (27/8). Ia menyebutkan, pelaksanaan eksekusi mati hanya bermaksud menampilkan sifat heroik Jaksa Agung HM Prasetyo.

"Di tengah karut marutnya penegakan hukum Indonesia, Jaksa Agung hendak tampil seolah heroik dengan melakukan eksekusi mati. Padahal Kejaksaan Agung sendiri juga defisit prestasi," katanya.

Dirinya menambahkan, hal itu terlihat dari kinerja Kejaksaan Agung selama 2,5 tahun terakhir yang tidak kunjung menunjukkan prestasi yang membanggakan.

Selain itu, eksekusi mati tidak lebih menjadi kosmetik untuk menutupi buruknya performa Kejaksaan Agung dalam penegakan hukum dan hak asasi manusia.

Dirinya menyebutkan, sebagaimana temuan Ombudsman RI pada akhir Juli lalu, jika Kejagung melakukan beberapa pelanggaran hukum terkait eksekusi mati jilid III April 2016. Bahkan Ombudsman juga meminta Kejagung melakukan sejumlah perbaikan terkait tata cara eksekusi.

Namun, bukannya membenahi diri pascarekomendasi Ombudsman, Jaksa Agung justru mengesampingkan evaluasi tersebut dengan meneruskan rencana eksekusi mati.

"Institusi penegakan hukum seperti Kejaksaan Agung tidak bisa diserahkan kepemimpinannya kepada figur yang mengabaikan terhadap norma hukum,” ucap Ricky.

Untuk itu, Ricky mendesak Presiden Joko Widodo untuk mencopot HM Prasetyo dari jabatan Jaksa Agung.

Selain itu, ia juga meminta Presiden menghentikan segala rencana eksekusi mati jilid keempat.

"Eksekusi mati tidak pernah terbukti berhasil menurunkan angka kejahatan apapun, termasuk tindak pidana narkotika," tutur Ricky. (Bisma Rizal/bus)