Minggu, 19 Januari 2020 | 14:57 WIB
Hari Migran Internasional 2017
Menaker: Momentum Tingkatkan Perlindungan Buruh Migran
Selasa, 19 Desember 2017 | 01:24 WIB
M. Hanif Dhakiri memperingati Hari Migran Internasional di Ponorogo, Jawa Timur, Senin (18/12) - [biro humas kemnaker]

Skalanews - Peringatan Hari Buruh Migran Internasional pada tanggal 18 Desember 2017 ini merupakan momentum penting bagi seluruh pihak dan semua pemangku kepentingan yang terlibat proses migrasi untuk melakukan intropeksi dan evaluasi terhadap peranannya masing-masing selama ini dan perannya di masa yang akan datang.

"Bulan Desember ini merupakan bulan sangat spesial bagi para Buruh Migran sedunia, termasuk Pekerja Migran Indonesia, semoga perlindungan terhadap buruh migran semakin baik dan semakin sejahtera. Mari Kita Bangun Kebersamaan menuju Kesuksesan," kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri dalam sambutannya saat peringatan Hari Migran Internasional di Ponorogo, Jawa Timur, Senin (18/12).

Menteri Hanif mengatakan saat ini migrasi atau bekerja ke luar negeri ini menjadi fenomena yang sangat kompleks. International Labour Organozation (ILO) memprediksi hampir 90 persen masyarakat dunia yg melakukan migrasi adalah pekerja migran dan anggota keluarganya.

Hasil penelitian dari World Bank sendiri, setidaknya terdapat 9 juta pekerja migran Indonesia yang tersebar luas hampir di seluruh negara di dunia. Diantaranya 55 persen ke Malaysia, 13 persen ke Saudi Arabia, 10 persen ke China Taipei, 6 persen Hongkong dll.

"Masih menjadi tantangan pekerja migran kita adalah keterampilannya masih berada pada di level menengah ke bawah. Tentu ini menjadi Pekerja Rumah baik pemerintah maupun seluruh pihak termasuk Pekerja Migran itu sendiri untuk memastikan melengkapi dirinya dengan keterampilan sebelum bekerja ke luar negeri," kata Hanif.



Bagi sebagian Pekerja Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri, pilihan ini mendatangkan banyak pengalaman positif. Sekitar 77 persen dari Pekerja migran ini mengaku mendapatkan keterampilan, mengaku mendapatkan pengalaman yang baru.

Dan sekitar 56 persen dari mereka juga mengaku ini merupakan pekerjaan berbayar pertama yang mereka terima pada saat mereka bekerja di luar negeri.

Artinya ini ada peluang yang besar bagi warga kita yang berminat untuk menjadi pekerja migran di luar negeri. Karena manfaatnya begitu besar. Dan kontribusinya terhadap keluarga dan kontribusinya terhadap masa depan dan pendidikan anak-anak kontribusinya terhadap perekonomian nasional sangat besar.

Namun demikian persoalan selalu mengiringi proses migrasi atau bekerja di luar negeri. Tapi  ini terus menurun menurut surveinya World Bank. Misalnya kekerasan seksual itu angkanya di bawah 1 persen dsb.

"Tapi bagi pemerintah, meskipun dari sisi angka risiko itu kecil tetapi kita juga harus katakan cukup, kalau misalkan pekerja migran kita terkena masalah. Kita harus memastikan proses migrasi benar-benar aman dan bermanfaat," kata Hanif.

Dari sisi regulasi, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 tentang Perlindungan Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya melalui Undang Undang Nomor 6 Tahun 2012 tentang pengesahan International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families (Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya).

Selain itu, para pemimpin negara ASEAN juga telah menandatangani Konsensus Perlindungan Bagi Pekerja Migran.

"Tentu saja kewajiban negara untuk merealisasikan hak-hak yang tercantum dalam konvensi tersebut dapat diberikan kepada seluruh pekerja migran dan anggota keluarganya tanpa diskriminasi. Substansi atau materi konvensi buruh migran yang memuat berbagai hak-hak para pekerja migran dan anggota keluarganya tentunya harus berjalan secara timbal balik, " katanya.

Menaker Hanif mengatakan pemerintah memandang migrasi merupakan hak dan pilihan bagi warga negara. Tugas pemerintah adalah memastikan, hak dan pilihan itu bisa dilakukan dengan baik, baik itu dari segi proses, misalnya cepat, mudah, murah, dan aman.

Dalam konteks itulah,  penting bagi seluruh pihak untuk bahu membahu agar tata kelola migrasi kita lebih mudah, cepat, aman, dan lebih bermanfaat. (deddi bayu/bus)