Jumat, 21 September 2018 | 15:07 WIB
Pemerintah Dorong Industri Siapkan Strategi Transformasi
Sabtu, 10 Maret 2018 | 10:29 WIB
M. Hanif Dhakiri - [biro humas kemnaker]

Skalanews - Dunia industri diharapkan dapat menciptakan industrial transformation strategy di tengah perkembangan zaman saat ini. Ketidaksiapan dalam menyiapkan strategi transformasi ini dinilai akan membuat industri terjebak pada persoalan industrial shock dan manpower shock.

"Kalau kita lambat mengantisipasi, maka kita akan ditinggal oleh negara-negara lain," kata Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M. Hanif Dhakiri saat mengisi Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel, Jakarta Utara, Jumat (9/3).

Dalam bidang ketenagakerjaan, Menaker Hanif menambahkan perkembangan zaman di era industri 4.0 saat ini turut merubah model bisnis di dunia industri. Akibatnya, karakter pekerjaan pun berubah.

Dikarenakan karakter pekerjaan berubah, menurut Menaker Hanif, maka keterampilan yang dibutuhkan juga berubah. Oleh karena itu, dunia industri juga harus melakukan investasi sumber daya manusia (SDM). Sebagai salah satu strategi untuk menghadapi perubahan.

"Dan Industri harus memimpin dalam investasi sumber daya manusia itu," ujar Menaker Hanif.



Dalam mempersiapkan investasi SDM ini, Menaker menekankan empat hal untuk diperhatikan. Pertama, tentang kualitas SDM. "Kualitas SDM di sini adalah dia harus demand driven," kata Menteri Hanif menjelaskan.

Kualitas SDM sendiri tidak hanya berbentuk keterampilan saja. Tapi, kualitas SDM harus mencakup hard skill dan juga soft skill.

Artinya, SDM yang berdaya saing tidak dicukupkan pada penguasaan kompetensi saja. Namun, jauh lebih penting harus memiliki karakter yang kuat.

"Itu merupakan salah satu basis utama. Jadi karakternya harus kuat," lanjut Menaker menjelaskan.

Kedua, investasi SDM juga harus memperhatikan sisi jumlah. Oleh karenanya, perlu adanya upaya menciptakan SDM kompeten secara masif.

Ketiga, lokasi. Menurut Menaker Hanif, Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang kompeten. Namun, persebaran sumber daya tersebut kurang merata. "Sehingga ketika investasi ke daerah-daerah hal ini menjadi lamban," kata Menaker.

Untuk itu, Menaker Hanif berharap investor yang ingin investasi ke daerah hendaknya juga melakukan investasi SDM. Sehingga, kebutuhan akan SDM kompeten di daerah dapat terpenuhi.

Keempat, investasi SDM harus didukung sikap responsif terhadap perubahan. Salah satunya dengan melakukan inovasi. "Kalau dulu merdeka atau mati, maka sekarang inovasi atau mati," ujarnya. (deddi bayu/bus)