Sabtu, 22 September 2018 | 04:36 WIB
Asumsi Makro APBN Mendatang Jangan Sampai Meleset
Kamis, 12 Juli 2018 | 00:02 WIB
Refrizal -

Skalanews - Asumsi makro yang terdapat pada APBN tahun-tahun mendatang diharapkan jangan sampai meleset seperti tahun ini agar target perencanaan pembangunan juga dapat dilaksanakan dengan baik dan berjalan lancar.

"Kondisi ekonomi global sedang tidak stabil, kita butuh APBN yang kredibel," kata Anggota DPR RI Fraksi PKS Refrizal, Rabu (11/7).

Menurut Refrizal, terkait asumsi pada APBN 2018 banyak yang meleset seperti nilai tukar rupiah dan harga ICP.

Sebagai contoh, ujar dia, pada asumsi makro APBN 2018 ditetapkan nilai tukar dolar sebesar 13.400, tetapi saat ini dollar diangka 14.300.

Ia mengingatkan bahwa perubahan harga dolar yang sangat signifikan tentu berpengaruh terhadap banyak hal dalam postur APBN, seperti makin besarnya jumlah hutang (bunga dan pokok) yang harus dibayar.

"Selain itu asumsi harga minyak mentah per barel pada APBN 2018 diangka 48 dollar per barel sedangkan harga pada Mei kemarin diangka 68-78 dollar per barel. Harga minyak mentah yang semakin tinggi akan berpengaruh terhadap beban subsidi energi. Bila tidak disesuaikan tentu akan sulit direalisasikan," jelasnya.

Lebih lanjut, Refrizal mengatakan bahwa pengajuan APBN ataupun APBN-P adalah mekanisme yang diatur oleh UU, sehingga bukan suatu prestasi mengajukan atau tidak mengajukan APBN-P.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyambut baik Badan Anggaran DPR telah menyetujui sejumlah asumsi dasar ekonomi makro 2019 yang akan menjadi dasar penyusunan RAPBN dengan pemerintah Republik Indonesia.

Sri Mulyani menyambut baik asumsi makro yang menjadi hasil dari pembahasan di panitia kerja Badan Anggaran, meski hanya berupa kisaran.

Asumsi dasar ekonomi makro RAPBN 2019 yang disetujui antara lain pertumbuhan ekonomi 5,2 persen-5,6 persen, laju inflasi 2,5 persen-4,5 persen dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp13.700-Rp14.000.

Sebelumnya, Menkeu mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo telah memutuskan untuk menjaga APBN 2018 dengan defisit lebih rendah dari yang direncanakan sebelumnya 2,19 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 2,12 persen.

"Dari sisi outlook sekarang ini, kami memperkirakan APBN 2018 akan menjadi defisitnya 2,12 persen dari PDB atau dalam hal ini Rp314 triliun lebih kecil dari tadinya yang diperkirakan Rp325 triliun," kata Sri Mulyani saat konferensi pers usai Rapat Terbatas yang membahas realisasi dan prognosis pelaksanaan APBN 2018 di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (9/7).

Menkeu mengungkapkan bahwa dalam laporan semester I APBN 2018 menunjukkan defisit yang mengalami penurunan, bahkan yang disebut keseimbangan primer posisinya positif.(ant/dbs)