Rabu, 17 Oktober 2018 | 01:34 WIB
Bappenas: Perlu Disiapkan Pengendalian Defisit Transaksi Berjalan
Jumat, 21 September 2018 | 00:02 WIB
Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro - [skalanews]

Skalanews - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah perlu mempersiapkan langkah-langkah pengendalian defisit neraca transaksi berjalan secara dini, mengingat masih tingginya gejolak ekonomi global.

"Kita selesaikan masalah 'current account deficit' itu kan hitungannya tidak harian atau mingguan, ada waktu yang dibutuhkan, jadi bisa sampai dengan akhir tahun dan sampai tahun depan. Yang penting kita harus siapkan langkahnya dari sekarang, tidak bisa tunggu masalah, baru kita siapkan," ujar Bambang di Jakarta, Kamis (20/9).

Kementerian Keuangan telah menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) terhadap ratusan barang konsumsi impor. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan yang disebut sudah 'lampu kuning' alias patut mulai berhati-hati.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2018 tercatat delapan miliar dolar AS atau 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar dolar AS atau 2,21 persen dari PDB.

Kendati pada triwulan kedua defisit transaksi berjalan sudah mencapai batas maksimal yang dianggap aman yaitu tiga persen, namun jika dihitung per semester I-2018, maka defisit transaksi berjalan baru mencapai 2,6 persen dari PDB.

Bambang menuturkan, yang direm oleh pemerintah adalah impor barang konsumsi, bukan untuk impor bahan baku produksi.

"Jadi, barang modal dan bahan baku kan tidak diganggu dan sesuai kebutuhan tetap jalan," ujar Bambang.

Selain membatasi impor barang konsumsi, pemerintah juga mengkaji ulang proyek-proyek infrastruktur yang memiliki konten impor tinggi. Terkait hal tersebut, Bambang menegaskan proyek-proyek infrastruktur yang ditunda adalah proyek yang masih dalam daftar perencanaan dan belum dimulai.

"Itu kan bukan proyek yang sudah jalan, tapi proyek yang belum mulai. Proyek itu butuh tahunan untuk selesai," kata Bambang.

Untuk mengurangi defisit transaksi berjalan, pemerintah juga mengimplementasikan penggunaan biodiesel 20 persen (B-20) untuk mengurangi impor bahan bakar solar.

Penerapan B-20 diklaim dapat memperkecil defisit transaksi berjalan sekaligus menghemat devisa negara hingga dua miliar dolar AS untuk tahun ini karena impor solar berkurang.(ant/dbs)