Selasa, 23 April 2019 | 13:08 WIB
Kesuksesan Pemberantasan Narkoba di 2018 Angkat Citra Polri
Senin, 31 Desember 2018 | 17:02 WIB
Ahmad Sahroni - [ist]

Skalanews - Kinerja Polri yang menunjukkan tren positif atas penanganan tindak kejahatan, khususnya narkoba. Prestasi itu lantas mendapat apresiasi dari anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni.

Menurut politisi Partai NasDem ini, derasnya arus penyelundupan narkoba berhasil diminimalisir dengan baik oleh jajaran Polri maupun Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bersinergi bersama intansi terkait, seperti Direktorat Jenderal Bea Cukai hingga TNI AL.

"Saya melihat kinerja Polri dan BNN dalam pemberantasan narkoba sangat baik pada tahun ini. Sinergitas dengan stake holder terkait, khususnya Bea Cukai dan TNI AL mampu menggagalkan sejumlah penyelundupan besar narkotika pada tahun ini," kata Sahroni kepada wartawan, Minggu (30/12).

Apresiasi juga diberikan Sahroni kepada jajaran Polri di tingkat Polres, dalam hal ini Polres Jakarta Barat yang mampu mengungkap tiga kasus home industry (clendestial lab) sepanjang tahun 2018 serta menekan premanisme di lingkungannya.

"Tiga praktik produksi narkoba yang diungkap di daerah Cilegon, Cipondoh, dan Cibinong oleh Polres Jakarta Barat patut diapresiasi. Polres Jakarta Barat juga aktif menekan premanisme yang meresahkan masyarakat dan aktif melakukan komunikasi dengan unsure tiga pilar lainnya, salah satunya Pemkot Jakarta Barat untuk menciptakan ketertiban dan keamanan di lingkungannya," paparnya.

Sementara itu meski diprediksi Sahroni masih banyak aksi penyelundupan melalui 'jalur tikus', dirinya tetap yakin Polri dan BNN akan mampu meminimalisir pergerakan para bandar.

Ke depan, Sahroni berharap pemetaan jalur masuk narkoba ke Indonesia yang telah dilakukan oleh Polri maupun BNN dapat ditindaklanjuti dengan pengawasan dan penindakan tegas terhadap para pelaku.

Sebelumnya Polri menyebut titik masuk sindikat internasional ke Indonesia antara lain pesisir pantai timur Sumatera yaitu Aceh, Medan, Riau, Kepri, lalu menuju Lampung untuk diseberangkan ke Pulau Jawa dan daerah lain.

Sedangkan BNN pada tahun ini mengidentifikasi 654 kawasan rawan narkoba di Indonesia dan melakukan intervensi melalui program pemberdayaan anti narkoba di 55 lokasi, yaitu di 36 di perkotaan dan 19 di pedesaan.

"Langkah pemetaan daerah rawan penyelundupan maupun kawasan marak peredaran narkoba ini harus ditindaklanjuti dengan pengawasan ketat dan penindakan tegas terukur terhadap para Bandar. Polri dan BNN harus membuktikan Indonesia perang terhadap narkoba," tegas politisi yang kembali menjadi Caleg dari Dapil Jakarta III ini.

Diberitakan sebelumnya, sepanjang 2018 Polri mencatat sebanyak 49.079 orang terlibat kasus narkoba sepanjang 2018, menurun 22 persen dibanding pada 2017 dengan angka 63.108 orang. Kendati jumlah tersangka mengalami penurunan, namun kasus ditangani justru meningkat dari 36.428 kasus di tahun 2017 menjadi 38.316 kasus di 2018.

Sejumlah kasus besar penyelundupan ditangani Polri pada tahun ini antara lain pengungkapan sabu 1,6 ton di Perairan Batam, Kepri dan penyelundupan 70,7 kg sabu serta 49.238 butir amphetamine (ekstasi) ekstasi asal Malaysia di Apartemen Season City, Tambora, Jakarta Barat pertengahan Desember lalu.

Sementara Kepala BNN Komjen Polisi Heru Winarko menuturkan jajarannya sepanjang tahun 2018 mengungkap 914 kasus narkotika dan prekursor narkotika yang melibatkan 1.355 tersangka.

Sebanyak 53 kasus TPPU (tindak pidana pencucian uang) melibatkan 70 tersangka dengan total aset Rp229 miliar juga berhasil diungkap BNN. Adapun barang bukti yang disita sepanjang tahun 2018 oleh BNN di antaranya sabu-sabu sebanyak 3,4 ton, ganja sebanyak 1,39 ton, ekstasi berbentuk tablet 469.619 butir dan ekstasi serbuk 1,88 kilogram.(Frida Astuti/dbs)