Jumat, 18 Januari 2019 | 17:36 WIB
Komunitas Masyarakat Robotik Pertama di Indonesia Resmi Dibentuk
Rabu, 9 Januari 2019 | 23:54 WIB
Menaker M. Hanif Dhakiri usai memberikan sambutan pada Deklarasi Pembentukan Masyarakat Robotika Indonesia di Bogor (9/1). - [dok.kemnaker]

Skalanews - Komunitas masyarakat robotik pertama di Indonesia telah dideklarasikan hari ini, Rabu, 9 Januari 2019 di Bogor, Jawa Barat.

Masyarakat Robotik Indonesia (MRI) ini dibentuk dengan tujuan menjadi suatu wadah organisasi yang dapat menjadi standard perkembangan dunia teknologi robotika.

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri mengatakan pembangunan SDM perlu diperkuat pada sisi karakternya agar kemampuannya melampaui robot.

"Anak-anak kita ini tidak dididik untuk bersaing dengan robot. Mereka justru harus melampaui robot dengan menonjolkan sisi kemanusiaannya," kata Menteri Hanif usai memberikan sambutan pada Deklarasi Pembentukan Masyarakat Robotika Indonesia di Bogor (9/1).

Menurut Hanif, ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh robot dan hanya bisa dilakukan oleh manusia. Untuk itu, manusia harus terus memperkuat diri baik dari sisi hard skill maupun soft skill. Hanif menyebut, 85 persen kompetensi yang dibutuhkan di masa depan adalah karakter.

Selain karakter, hal yang membuat manusia unggul dari robot adalah responsif terhadap perubahan. "Dengan kecepatan adaptasi manusia akan eksis dan mengendalikan semua perubahan," tuturnya.

Hanif membeberkan hasil survey ILO, 58 persen jenis pekerjaan yang ada saat ini akan hilang di masa depan. Sebaliknya, 65 persen pekerjaan baru akan muncul di masa depan belum dikenal saat ini.

Untuk itu, ia meminta perubahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi dan informasi jangan dilihat sebagai tantangan semata. Namun juga peluang bagi Indonesia.

"Oleh karena itu, investasi SDM memegang peranan penting dalam menghadapi era digitalisasi ini," ujar Hanif.

Adapun, hal yang harus diperhatikan dalam investasi SDM adalah kesesuaian terhadap kebutuhan pasar kerja (link and match). Investasi SDM harus berbasiskan demand driven.

Ia pun menilai, masih ada investasi SDM di Indonesia, baik melalui skema pendidikan formal maupun pelatihan yang sudak tidak relevan dengan demand-nya.

"Semua harus dibenahi dimana kita berorientasi pada kebutuhan di pasar kerjanya. Jadi kebutuhannya apa, di situlah input SDM-nya kita benahi," paparnya.

Senada dengan Menaker, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza menilai bahwa era revolusi industri 4.0 ini harus dijadikan memonetum oleh seluruh masyarakat dunia untuk tinggal landas membangun ekonomi berbasis inovasi.

"Maka pembangunan SDM-nya harus dibangin menjadi sebuah SDM yang bersumber pada inovasi," katanya.

Sementara itu, Pemrakarsa Pusat Robot Indonesia (PURI Robotics), Jully Tjindrawan menjelaskan bahwa Masyarakat Robotik Indonesia (MRI) dibentuk berdasarkan hasil kerja sama Robotic Explorer dengan BPPT.

"Dalam Wadah organisasi ini nantinya menjadi ajang pertukaran ide dari berbagai komunitas seperti komunitas pendidikan, komunitas bisnis dan industri, komunitas pemerintahan, dan komunitas kedokteran maupun komunitas pengamat dan media masa," jelas Jully.

Turut hadir dalam deklarasi ini, Direktur Standarisasi Kompetensi dan Pelatihan Kerja Kemnaker, Sukiyo; Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo, Rosarita Niken Widiastuti; dan Penasehat PURI Robotics, Dewi Motik Pramono. [day/bus]