Sabtu, 23 Maret 2019 | 02:35 WIB
Bawaslu: Siapa Saja Bisa Termakan Hoaks
Sabtu, 16 Maret 2019 | 12:09 WIB
Diskusi Pers Lawan Hoaks Pemilu 2019 di Kuta, Bali, Jumat malam (15/3/2019). - [ist]

Skalanews - Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI Mochammad Afifudin mengatakan orang terpelajar dapat termakan isu informasi tidak benar atau hoaks. Apalagi dalam era digitalisasi penangkalan atas hoaks jauh lebih sulit.

"Kalau dulu kan penyebarannya dengan spanduk tinggal dicopot saja ya selesai. Misalnya hal-hal di Kebon Kacang, kami ambil barangnya itu selesai," ujarnya dalam acara diskusi "Pers Lawan Hoaks Pemilu", Jumat (15/3) malam di Kuta, Bali.

Afif mengatakan, ia sering sekali mendapatkan pesan singkat dari anggota Komisi II DPR RI yang meminta klarifikasinya. Apalagi ketika muncul isu logistik pemilu dari Tiongkok. "Jadi kaum terpelajar pun bisa juga kena di era digital ini," ungkapannya.

Hal ini tentu saja mempengaruhi tingkat kepercayaan penyelenggara pemilu. "Yang paling berasa itu ketika isu 7 kontainer tercoblos yang berasal dari China itu saya merasakan sekali lelahnya mengerjakan hal-hal yang tidak subtansi," jelasnya.

Yang paling tidak menyenangkan kata Afif, modus yang dipakai untuk menyebarkan hoaks dalam Pemilu 2019 adalah membuat media abal-abal. Setelah itu, melalui media abal-abal tersebut informasi disebarluaskan di media sosial.

"Bahkan, modus yang sekarang terjadi. Begitu dibikin media dengan tanda kutip media abal-abal, dicapture di medsos lalu medianya hilang tentu kami sulit untuk mengklarifikasi," kata Afifudin.

Hal itulah mengapa peran media real dan media mainstream dalam melawan hoaks sangatlah penting. "Karena melalui proses verifikasi berjenjang dan jelas institusinya," jelasnya. (Bisma Rizal/Bus)