Kamis, 20 Juni 2019 | 06:08 WIB
Buyback Indosat Langkah Strategi Untuk Kedaulatan Big Data
Senin, 25 Maret 2019 | 21:36 WIB
Erwin Aksa - [ist]

Skalanews - Pengusaha Erwin Aksa Mahmud menyebutkan, pembelian kembali (buyback) saham Indosat adalah langkah strategis yang harus dilakukan oleh Pemerintahan yang akan datang.

Sebab selain untuk industri digital, kata Erwin keberadaan Indosat sangat penting untuk menjadi data center atau Big Data.

"Big data merupakan hal sangat strategis, Indosat memiliki anak usaha Lintas Artha yang memiliki data center besar, big data kita inilah yang menjadikan perusahaaan asing berani investasi di sektor digital," ujar mantan Ketua Umum Hipmi itu saat dihubungi skalanews, Jakarta, Senin (25/3).

Untuk itulah, kata Erwin, big data perlu dikelola secara baik agar kemaslahatan bangsa ini lebih baik.

"Kita harus menjaga agar data center ada di Indonesia bukan di Singapura atau negara lain," jelas keponakan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu.

Selain itu, kata Erwin, keberadaan satelit juga sangat strategis. "Dan Indosat memiliki satelit yang harus digunakan dengan baik untuk memajukan industri digital," tuturnya.

Sebelumnya, calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno bertekad membeli kembali saham Indosat yang saat ini dikuasai perusahaan telekomunikasi Qatar.

Menurut Sandiaga perusahaan telekomunikasi Indosat sangat penting untuk penguasaan data, salah satunya data KTP elektronik.

"Sebetulnya ide pak Jokowi untuk mem-buyback Indosat itu bagus dan di bawah Prabowo-Sandi akan kita usahakan. Kita bicara dengan Qatar, bagaimana kita kolaborasi Indonesia bisa punya kedaulatan datanya sehingga nanti sistem integrasi SIN (single identity number) dengan penggunaan big data itu bisa dikawal dengan perusahaan dan dikontrol oleh perusahaan-perusahaan seperti Telkomsel dan Indosat," kata Sandiaga di Jakarta Timur, Rabu, (20/3).

Dengan kepemilikan mayoritas tersebut, kata Sandi, Indonesia maka informasi kependudukan dapat dioptimalisasi.

Dan kedaulatan data di republik ini lebih terjamin. Kemudian pemerintah juga bisa mengaplikasi banyak program pembangunan dengan merujuk data kependudukan yang ada di perusahaan telekomunikasi.

"Pusat datanya ada di indonesia. Ya harus bikin, dan berupa kolaborasi. Datanya itu kan paling banyak pegang data itu bukan hanya pemerintah saja, dari para pemegang seperti Telkomsel gabung sama Indosat itu bisa 80 persen ada pelanggan handphone kita. Ya akan kita ajak bergabung, Telkomsel kan mayoritasnya Indonesia kalau Indosat kan mayoritasnya masih pihak Qatar. Kita mau buyback, sesuai rencananya pak Jokowi namun kunjung terlaksana," katanya.

Dengan seperti itu Sandi mengatakan program penciptaan lapangan kerja dengan strategi big push dapat terlaksana. Karena industrialisasi lapangan kerja membutuhkan penguasaan data.

Selain strategi membangun ekosistem usaha dengan program OKE OCE dan Rumah Siap Kerja.

Sebelumnya Pemerintah Indonesia menjual 40 persen saham Indosat kepada Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia) pada 2002 kemudian dijual ke Qatar Telecom.

Jokowi pada Pilpres 2014 lalu berjanji akan membeli kembali saham yang dijual tersebut, namun hingga Pemilu berikutnya belum juga terealisasi. (Bisma Rizal/bus)