Rabu, 20 Juni 2018 | 01:17 WIB
Politik
Ini Keuntungan Purnawirawan TNI/Polri Maju di Pilkada
Rabu, 10 Januari 2018 | 12:01 WIB
Titi Anggraini - [ist]

Skalanews - Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini membenarkan bahwa kandidat dari angkatan bersenjata dalam pemilihan kepala daerah diuntungkan, lantaran sudah memiliki mesin sosial sendiri.

Baik mereka dari TNI dan Polri rata-rata sudah tahu peta sebuah wilayah, dari karakteristiknya, hingga siapakah tokoh masyarakat yang paling didengar oleh masyarakat daerah tersebut.

Hal inilah yang menjadi nilai tambah bagi Partai Politik untuk merekrut mereka maju sebagai kontestan.

"Ini betul. Ekpektasi parpol tentu merekrut siapa saja yang punya basis sosial kuat karena berkaitan dengan kepentingan elektabilitas yang jadi fokus parpol," ujar Titi saat dihubungi skalanews, Jakarta, Rabu (10/1).

Titi menambahkan, kebutuhan penguasaan wilayah bakal menjadi modal untuk para kandidat membangun citra. "(Karenanya) penguasaan pada wilayah sudah otomatis memang jadi salah satu basis alasan rekrutmen," jelasnya.

Meski demikian, para kandidat yang pernah mendapatkan fasilitas negara untuk mendekati masyarakat tersebut belum tentu menjadi sebagai pemenang dalam kontestasi. "(Karena memenangkan Pilkada) berbeda dengan memenangkan perang," jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Perludem, saat Pilkada serentak tahun 2017 dan 2015 hanya ada beberapa kontestan yang memenangkan Pilkada.

Sebut saja 2017 lalu, ada 7 kontestan dari Polri dan TNI yang maju dalam ajang perebutan kekuasaan sebuah wilayah baik tingkat I atau Provinsi dan tingkat II atau Kabupaten/Kota.

Namun, yang memenangkan kompetisi tersebut hanyalah 3 orang. Sedangkan pada 2015 dari 27 kontestan hanya 6 orang yang berhasil merebut kursi sebagai pemimpin daerah.

Bagi Parpol para kontestan dari angkatan bersenjata dapat dicitrakan sebagai putra daerah atau figur yang sukses dan berhasil di bidangnya.

Selain itu, mereka juga dapat dikesankan sebagai sosok calon yang punya etos kepemimpinan baik karena berasal dari isntitusi yang bekerja berdasar sistem komanda dengan disiplin tinggi.

"Tapi sekali lagi memenangkan pilkada tentu berbeda dengan memenangkan perang," tuturnya.

Seperti diketahui, beberapa parpol  mengusung sejumlah figur jenderal aktif maupun purnawirawan dari kesatuan TNI dan Polri dalam pemilihan kepala daerah serentak 2018.

Sebut saja Letnan Jenderal TNI (purn) Edy Rahmayadi di Pilkada Sumut, Mayjen TNI (purn) Sudrajat yang akan bertarung dengan Mayjen TNI (purn) Tubagus Hasanuddin dalam perebutan kursi Jabar I.

Kemudian, Inspektur Jenderal Anton Charliyan sebagai cawagub Jawa Barat, Irjen Safaruddin sebagai calon gubernur Kalimantan Timur, dan Irjen Murad Ismail sebagai calon gubernur Maluku.(Bisma Rizal/dbs)