Senin, 18 November 2019 | 03:48 WIB
Politik
Pengamat: Jokowi Sedang Mainkan Visualisasi Politik
Sabtu, 31 Maret 2018 | 07:33 WIB
-

Skalanews - Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyebutkan, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto belum tentu menjadi calon Wakil Presiden mendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019.

Sebab, ia menilai pertemuan beberapa waktu lalu di Istana Bogor antara Jokowi dengan Airlangga belum tentu jadi sinyal Jokowi akan mengandeng Menteri Perindustrian tersebut.

Meskipun diakui Jokowi pertemuan lari pagi tersebut dipenuhi dengan bincang-bincang beberapa hal, termasuk soal Pilpres 2019.

"Lantas apakah pertemuan tersebut merupakan sinyal bahwa Airlangga akan dipinang menjadi Cawapres mendampingi Jokowi? Menurut saya belum tentu. Bisa iyaa bisa tidak," ujarnya melalui pers rilisnya, Jakarta, Jumat (30/3).

Karyono mengakui, pertemuan tersebut memang menimbulkan persepsi publik seolah Jokowi sedang meminang Airlangga menjadi Cawapres mendampingi dirinya di Pilpres 2019 nanti.

"Persepsi tersebut tidak salah tapi jangan terburu-buru membuat kesimpulan. Pertemuan tersebut baru menjadi salah satu indikator belum merupakan kesimpulan akhir. Pertemuan tersebut jangan dimaknai sebagai final decision."

"Meskipun saya tak menyangkal bahwa Airlangga Hartarto adalah salah satu tokoh yang memiliki potensi untuk mendampingi Jokowi pada pilpres 2019, karena dia merupakan sosok yang bisa disebut mewakili dua sisi yaitu tokoh dari kalangan parpol dan profesional," jelasnya.

Karyono menyebutkan, yang harus difahami pertemuan Jokowi dengan Airlangga adalah bagian dari rangkain pertemuan Jokowi dengan sejumlah tokoh lainnya.

"Ketahuilah, Jokowi sejatinya tengah memainkan komunikasi politik dengan menggunakan pendekatan politik simbolis dengan berbagai visualisasi untuk menyampaikan pesan kepada publik," tuturnya.

Visualisasi ini tergantung publik mempersepsikan atau menilainya. Tapi buatnya pesan yang bisa ditangkap adalah Jokowi sedang melakukan komunikasi politik untuk menjajaki berbagai kemungkinan yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

"Baik dalam membangun koalisi partai maupun dalam menentukan Cawapres. Karena Jokowi harus menghitung berbagai risiko politik sebelum mengambil keputusan," ungkapnya.

Ia menilai Jokowi telah melakukan komunikasi dalam bentuk visualisasi politik, seperti diantaranya dia mengajak Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dalam satu kunjungan, tapi di sisi lain dia mengajak Ketua Umum PPP Romahurmuzy (Romi).

Selain itu, Jokowi juga mengajak Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Dalam kesempatan yang berbeda, Jokowi juga bertemu beberapa kali dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Bisma Rizal/bus)


  
  
TERPOPULER
Index +