Selasa, 11 Desember 2018 | 04:08 WIB
Politik
Proyek China di Indonesia Harus Libatkan Banyak Pekerja Lokal
Kamis, 19 April 2018 | 05:43 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo menyatakan proyek-proyek yang melibatkan investasi dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Indonesia harus banyak melibatkan pekerja lokal.

Pekerja dari RRT yang didatangkan ke Indonesia diharapkan memiliki klasifikasi khusus yang kemampuannya tidak dimiliki pekerja Indonesia.

Bamsoet, begitu panggilannya, menekankan serbuan tenaga kerja asing ke Indonesia jangan sampai menggerus lapangan kerja dalam negeri.

"Kita sangat senang investasi RRT banyak berinvestasi di Indonesia. Tetapi, jangan sampai investasi RRT di Indonesia justru merugikan tenaga kerja dalam negeri. Para pekerja lokal seolah tersingkir oleh pekerja asing," papar Bamsoet saat menerima Duta Besar RRT untuk Indonesia Xiao Qian di ruang kerja Ketua DPR, Jakarta, Rabu (18/4).

Bamsoet mengemukakan, saat ini banyak pekerja asal RRT bekerja diberbagai bidang. Mulai dari buruh, pekerja infrastruktur hingga pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik lain-lainnya. Padahal, di sektor itu masih banyak masyarakat Indonesia yang membutuhkan pekerjaan.

"Proyek-proyek RRT di Indonesia harus bisa banyak menyerap tenaga kerja Indonesia. Boleh saja, mendatangkan pekerja dari RRT, tetapi dengan klasifikasi khusus yang kemampuannya tidak dimiliki pekerja Indonesia," tegas Bamsoet.

Dalam kesempatan yang sama mantan Ketua Komisi III ini berharap hubungan kerjasama antara Indonesia dan RRT terus meningkat di berbagai sektor. Kualitas hubungan yang seimbang dan saling menghormati antara kedua negara harus terus dikembangkan.

"Indonesia dan RRT merupakan dua negara besar di dunia. Hubungan yang ada tidak sebatas membahas hubungan bilateral saja, tetapi juga isu kawasan dan dunia. Saya senang hubungan bilateral antara Indonesia dan RRT terus membaik dari tahun ke tahun," ujarnya.

Di bidang ekonomi kata Bamsoet, hubungan Indonesia-RRT terus mengalami peningkatan. Nilai perdagangan antara Indonesia dan RRT pada tahun 2017 mencapai US$ 63,358 miliar. Jumlah tersebut meningkat 17 persen dibanding tahun 2016, yaitu US$ 47,59 miliar.

"Peningkatan nilai perdagangan ini membuktikan kedua negara memiliki hubungan yang berkelanjutan dalam kerjasama ekonomi. Perdagangan yang saling menguntungkan dan seimbang harus lebih kita tingkatkan lagi," kata Bamsoet.

Disampaikannya, di bidang investasi RRT masuk dalam tiga besar negara yang memiliki invetasi tinggi di Indonesia. Nilai investasi RRT di Indonesia pada tahun 2017 mencapai US$ 3,4 miliar dalam 1.977 proyek. Investasi tersebut naik dari tahun sebelumnya, sebesar US$ 2,66 miliar.

"Investasi RRT telah merambah ke berbagai sektor. Antara lain, pertambangan, transportasi, konstruksi, real estate, perkebunan, pembangkit listrik dan pembangunan smelter nikel. Kita harapkan kedepan untuk peningkatan investasi bisa dilakukan dengan mensinergikan konsep pembangunan, seperti pembangunan poros maritim nasional," papar Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, di bidang pariwisata jumlah turis dari RRT menempati peringkat pertama dengan jumlah lebih dari 2 juta orang pada tahun 2017. Jumlah tersebut naik dari tahun 2016, sebanyak 1.304.760 orang.

"Kita senang angka wisatawan RRT yang berkunjung ke Indonesia lebih dari 2 juta orang pada tahun lalu. Indonesia memiliki banyak tempat wisata yang indah dan eksotis. Kami harap pihak kedutaan besar RRT bisa terus mempromosikan Indonesia agar makin banyak wisatawan dari RRT yang berkunjung ke negara kami," pungkas Bamsoet.

Pertemuan antara Bamsoet dan Duta Besar RRT tersebut turut dihadiri Wakil Ketua DPR Utut Adianto, Wakil Ketua Komisi I DPR Satya Widya Yudha dan Asril Tanjung serta anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni. Dari Kedubes RRT hadir Kepala Bagian Politik Wang Shikun, Atase bidang Politik Zhu Yarong, serta penasehat bidang politik Xu Hangtian. (Frida Astuti/bus)